“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.”
- Anaïs Nin
Saya bukanlah tipikal orang yang senang berbagi masalah saya dengan orang-orang. Bahkan kedua orangtua saya, atau pacar saya sendiripun yang sebagai orang-orang paling dekat dengan kehidupan saya jarang sekali mendengar masalah dari mulut saya secara gamblang. Alasannya sederhana, saya tidak suka. Saya merasa tidak nyaman membuka dan menceritakan masalah yang terjadi di hidup saya, tapi kok semakin lama saya merasa seperti ada lubang dihati saya yang semakin lama semakin membesar. Tidak tahu lubang apa dan karena apa, tapi saya semacam punya perasaan yang mengganjal dihati saya.
Saya mempunyai teman kuliah yang mudah sekali menangis. Bagi dia menitikan airmata bukanlah perkara sulit. Teman saya satu ini kalau bahasa gaulnya Baper alias bawa perasaan sekali. Ingat orangtua, dia nangis. Pacarnya telat kasih kabar dia nangis. Denger lagu See you again-nya soundtrack Fast Furious 7 saja dia nangis, gara-gara dia sedih teringat mendiang Paul Walker. Lebay? Iya. Sangat.
Tapi akhir-akhir ini saya merasa iri sekali dengan teman saya yang mudah sekali menangis itu, apalagi setelah dia mengatakan sesuatu tentang airmatanya itu. "nangis itu bisa bikin lega.." begitu ucapnya. Lega?
Mungkin itu yang membuat saya jadi iri. Orang yang bisa menangis itu bisa merasa lega karena mereka bisa meluapkan emosi mereka. Habis perkara mereka tentang kesedihan usai mereka banjir airmata. Mereka mungkin jadi terlihat cengeng, lemah, lembek. Tapi mereka lebih baik daripada orang-orang yang terlihat tegar, jarang menangis. Orang-orang seperti merekalah yang sebenarnya paling rapuh dan riskan. Sialnya saya salahsatu diantara mereka.
Dari situlah saya menyadari pentingnya berbagi masalah dengan orang-orang. Berbagi cerita, berbagi opini, berbagi pengalaman, berbagi apasaja yang bisa meringankan perasaan ganjal dihati. Lalu kemudian saya berpikir, saya bukan orang yang senang mengobrol tatap muka menceritakan masalah saya. Saya senang menulis. Saya akhirnya mulai menulis lagi, membuka blog lama ini lagi. menceritakan pada dunia tentang hal-hal kecil yang saya alami.
Let the world see who I am and what am I doing in my life.
- Anaïs Nin
Saya bukanlah tipikal orang yang senang berbagi masalah saya dengan orang-orang. Bahkan kedua orangtua saya, atau pacar saya sendiripun yang sebagai orang-orang paling dekat dengan kehidupan saya jarang sekali mendengar masalah dari mulut saya secara gamblang. Alasannya sederhana, saya tidak suka. Saya merasa tidak nyaman membuka dan menceritakan masalah yang terjadi di hidup saya, tapi kok semakin lama saya merasa seperti ada lubang dihati saya yang semakin lama semakin membesar. Tidak tahu lubang apa dan karena apa, tapi saya semacam punya perasaan yang mengganjal dihati saya.
Saya mempunyai teman kuliah yang mudah sekali menangis. Bagi dia menitikan airmata bukanlah perkara sulit. Teman saya satu ini kalau bahasa gaulnya Baper alias bawa perasaan sekali. Ingat orangtua, dia nangis. Pacarnya telat kasih kabar dia nangis. Denger lagu See you again-nya soundtrack Fast Furious 7 saja dia nangis, gara-gara dia sedih teringat mendiang Paul Walker. Lebay? Iya. Sangat.
Tapi akhir-akhir ini saya merasa iri sekali dengan teman saya yang mudah sekali menangis itu, apalagi setelah dia mengatakan sesuatu tentang airmatanya itu. "nangis itu bisa bikin lega.." begitu ucapnya. Lega?
Mungkin itu yang membuat saya jadi iri. Orang yang bisa menangis itu bisa merasa lega karena mereka bisa meluapkan emosi mereka. Habis perkara mereka tentang kesedihan usai mereka banjir airmata. Mereka mungkin jadi terlihat cengeng, lemah, lembek. Tapi mereka lebih baik daripada orang-orang yang terlihat tegar, jarang menangis. Orang-orang seperti merekalah yang sebenarnya paling rapuh dan riskan. Sialnya saya salahsatu diantara mereka.
Dari situlah saya menyadari pentingnya berbagi masalah dengan orang-orang. Berbagi cerita, berbagi opini, berbagi pengalaman, berbagi apasaja yang bisa meringankan perasaan ganjal dihati. Lalu kemudian saya berpikir, saya bukan orang yang senang mengobrol tatap muka menceritakan masalah saya. Saya senang menulis. Saya akhirnya mulai menulis lagi, membuka blog lama ini lagi. menceritakan pada dunia tentang hal-hal kecil yang saya alami.
Let the world see who I am and what am I doing in my life.